Wejangan Untuk Hidup Yang Lebih Baik Lagi

Wejangan dalam konteks masyarakat jawa mungkin tidak lah asing lagi. Wejangan selalu diartikan sebagai sesuatu anjuran yang baik yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain. Baik itu diberikan dari orang yang lebih tua kepada orang yang lebih muda maupun disampaikan kepada orang yang seumuran. Wejangan mungkin bisa diartikan sebagai suatu pesan atau nasehat yang diharapakan mampu untuk menjalani kehidupan ini menjadi lebih baik lagi.

Wejangan sendiri telah ada sejak jaman dahulu. Sebagai contoh dalam tokoh pewayangan, dimana Bagong memberikan wejangan kepada saudara-saudaranya yang lebih muda, seperti Petruk, Gareng dan Semar (Maaf kalo gak salah keliru, karena sudah lama gak dengerin wayang..hehehe). Bahkan mungkin dalam kehidupan sehari-hari kita pun selalu mendapatkan wejangan yang tanpa kita sadari apa yang disampaikan orang lain kepada kita merupakan suatu pesan atau nasehat untuk menjalani kehidupan di dunia ini menjadi lebih baik. Terkadang juga penyampaian wejangan inilah yang setiap orang mempunyai cara yang berbeda-beda, mungkin ada yang menggunakan cara yang lemah lembut akan tetapi terkadang juga ada juga yang menggunakan dengan cara “ekstrim”.

Baca lebih lanjut

Indahnya Berbicara di Depan Orang Banyak

Pelaksanaan ujian praktik kelas IX bertausiyah dihadapan adik kelasnya.

Kata indah selalu identik dengan sesuatu yang menyenangkan untuk di tangkap oleh alat indra terutama mata. Dan indah adalah sesuatu yang membuat hati dan diri kita menjadi bahagia. Tapi disisi lain, indah juga bisa menggambarkan bukan arti yang sesungguhnya, dimana suatu keindahan dapat diartikan sebagai sesuatu yang masih harus kita pelajari dari siapa pun untuk hidup kita yang lebih baik lagi. Mungkin pengertian yang kedua inilah yang saya ambil dalam pemaknaan tulisan ini. “Indah” menandai kita untuk selalu belajar lebih lagi tanpa adanya rasa puas dalam diri manusia untuk selalu belajar, belajar dan belajar.

Baca lebih lanjut

Om Jay : “Menulis Adalah Kebiasaan”

“Menulis Adalah Kebiasaan”. Suatu kalimat yang dapat diambil dari oborlan ringan saya kepada seseorang yang telah banyak pengalaman dalam hal tulis-menulis yakni Bapak Wijaya Kusuma (Om Jay – sapaan teman-temannya dan mungkin juga termasuk saya). Meskipun hanya perbincangan yang sebentar dan hanya melalui media sosial, tapi sangat banyak yang dapat diambil hikmahnya dalam obrolan tersebut. Obrolan dari seseorang yang ingin belajar menulis agar bisa menulis dengan benar dan tentunya agar tulisan itu bermakna dan informatif.

Ketika saya renungkan – dalam perjalanan menuju alam mimpi – ternyata memang benar bahwa menulis adalah suatu kebiasaan. Ketika kita terbiasa dengan menulis maka menulis bukanlah suatu hal yang susah, sama seperti aktivitas-aktivitas kita lainnya. Ketika kita terbiasa dengan aktivitas yang kita jalani, maka kita akan merasa mudah dan menyenangkan, tanpa harus bingung memikirkan caranya serta merta kita pasti akan bisa, mudah dan ringan melakukannya. Mungkin inilah yang terjadi dalam diri saya karena dulu pelajaran yang kurang saya senangi adalah pelajaran bahasa Indonesia karena setiap ujian pasti dapat ditemui tentang soal membuat karangan. Hingga pada akhirnya saat ini harus mulai lagi dari awal tentang belajar menulis. Meskipun menulis hanya merangkaikan setiap kata yang satu dengan yang lain sehingga menjadi suatu bentuk kalimat yang mudah untuk dipahami.

Baca lebih lanjut

Harlah (Hari Lahir) : Haruskah selalu diperingati?

Kata Harlah (Hari Lahir) atau sering orang menyebutnya dengan ulang tahun, milad dan lain sebagainya, pasti tidak akan pernah asing di telinga kita. Kata-kata tersebut selalu terdegngar ketika seseorang merayakan ulang tahunnya atau bahkan  menjadi suatu peringatan tertentu, semisal ulang tahun perkawinan, hari jadi suatu kabupaten atau kota, dan lain sebagainya. Banyak suatu kegiatan (kalo boleh dibilang) dalam memperingati hari ulang tahun tersebut, semisal ketika seseorang merayakan ulang tahun selalu “menraktir” teman-temannya atau bahkan mengadakan suatu pesta yang besar-besaran. Hampir dapat diambil suatu kesimpulan bahwa hari lahir selalu identik dengan sesuatu yang baru yang sebelumnya belum pernah ada.

Baca lebih lanjut

He…Kemana Aja Loe… Ayo Nulis Lagi!

Sebuah kalimat ajakan dari seorang temen dari tetangga rumah yang mencoba memberikan perhatian kepada saya (yang sama-sama bujang di kebun, meskipun kalo dia balik ke kampung halamannya akan menjadi bapak dan klo saya meskipun pulang kampung tetap menjadi bujangan, asal jangan sampai jadi bujang lapuk…hehehe) untuk selalu menuliskan apa yang ada dalam otak ke dalam suatu media khususnya blog ini. Memang diakui bahwa tingkat menulis dia dibandingkan saya lebih aktif dia, terbukti banyak tulisannya yang termuat dalam blog pribadinya. Banyak hal yang menurut saya, dari “kelakuan” dia yang menginspirasi saya secara tidak langsung dan tentunya adalah kelakuan-kelakuan dia yang baik. Hampir disetiap kita “ngrumpi” bareng di halaman belakang rumah di bawah pohon sawit, hanya untuk mencuri ilmu dari dia …. Hahahaha sori coy mas dab…..

Baca lebih lanjut

MATEMATIKA : Susah kah?

Ketika saya mulai kenal dunia sekolah beberapa yang lalu, yang terbersit jauh di dalam otak saya adalah pelajaran matematika sulit dipahami. Dan opini ini terus terbawa sampai saya selesai jenjang sekolah menengah yaikni SMA (Alhamdulillah saya bisa lulus SMA dan bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi). Meskipun pada jenjang sekolah dasar, matematika biar namanya tidak terlalu seram (karena memang saya akui ketika mendengar kata matematika, banyak pikiran aneh yang menyelimuti otak saya, tapi perlu digaris bawahi pikiran kotor tidak ada lo ya) yang kemudian diganti dengan nama berhitung, tapi tetap saja intinya adalah permainan otak-atik angka. Meskipun simple dan bisa dibilang sederhana karena hanya dengan beberapa angka saja kita bisa membuat “kalimat” yang sangat panjang, akan tetapi tetap saja membingungkan bagi diri saya. Sampai pada beberapa tahun yang lalu saya mendengar plesetan dari arti MaTeMaTiKa yaitu Makin Teguh Makin Tidak Karuan. Hal inilah yang membuat saya berpikir dan dalam otak saya sedikit memahami memang pelajaran matematika itu bahwa semakin kita “merasa” menguasai, maka semakin tidak karuannya pikiran kita. Inilah yang kemudian dalam pelajaran bahasa Indonesia dinamakan dengan hukum sebab-akibat. Dengan pemberian image  yang telah melekat  pada matematika inilah yang kemudian tidak bisa “mengantarkan” saya untuk mendapatkan nilai matematika yang bagus bahkan sampai 9 atau 10, karena rata-rata nilai matematika hanya berkisar antara 7-8 di setiap ulangang catur wulan (dulu masih menganut sistem catur wulan, dimana dalam satu tahun terbagi dalam tiga catur wulan, bukan seperti sekarang yang telah menganut sistem semester).

Baca lebih lanjut

Iseng-Iseng Berhadiah di Tanjung Keluang

Pembelajaran tidak serta merta selalu dilakukan di dalam kelas. Pembelajaran bisa saja dilakukan di luar lingkungan kelas, seperti di alam.  Inilah yang kemudian mengilhami kami untuk melakukan pembelajaran di luar kelas, belajar secara langsung dari alam, dimana alam menjadi guru yang menerangkan kepada kami tentang arti sebuah pembelajaran, dimana dia menerangkan dengan metode yang berbeda layaknya guru-guru yang ada di sekolah.

Dan Akhirnya yang menjadi tujuan dari alam untuk tujuan kami dalam pembelajaran adalah di Tanjung Keluang. Tanjung Keluang termasuk di dalam propinsi Kalimantan Tengah, tepatnya di Kabupaten Kotawiringin Barat. Tanjung ini terletak di daerah Kubu, dan dapat ditempuh dengan perjalan darat sejauh kurang lebih 25 km dari pusat kota Pangkalan Bun, dengan perkiraan waktu sekitar 30 menit dari pusat kota. Untuk menuju Tanjung Keluang ini harus ditempuh dengan perjalanan air dari Pantai Kubu sekitar 20 menit tergantung alat transportasi yang digunakan, bisa menggunakan speedboat ataupun perahu kecil.

Baca lebih lanjut